Dua atau tiga tahun lalu, news feed facebook saya heboh dengan tulisan "nyentil" dari sebuah website. Ya saya ga mau ngasih tau websitenya, tapi kalau teman-teman beauty blogger pasti tau betapa viralnya tulisan ini. Sebutlah saja website itu bernama Hipwee.
Salah satu (atau mungkin salah dua salah tiga) penulis dalam Hipwee memaparkan opini mereka tentang betapa buruknya wanita bermake up versus betapa baiknya wanita tanpa make up. Artikel ini menyulut emosi beberapa teman beauty blogger, hingga saya yakin artikel ini hit menjadi popular post di hipwee masa itu.
Saya pikir ini sangat wajar. Wanita mana yang tidak marah bila dibanding-bandingkan? Apalagi kalau dilabeli 'lebih buruk', wah bisa perang dunia kan?
Tidak jarang, beberapa teman saya yang tidak bermake up, sharing quotes tentang betapa baiknya cantik natural, dan betapa buruknya wanita bermake up. Mereka tidak gamblang mengatakan wanita bermake up itu buruk. Hanya saja, mereka sharing quotes macam: "Cantiknya aku ga akan terhapus oleh air wudhu, ga kayak kamu yang alisnya luntur kena air wudhu..
" atau "Kamu pilih aku yang alisnya ga akan luntur kalo wudhu atau dia yang alisnya luntur? " Ngeselin ya?
Saya saat itu malas berkomentar baik pada postingan hipwee atau postingan nyentil ala teman-teman saya. Malas buang waktu untuk orang yang menghakimi dan nyinyir sama wanita bermake up.
Sampai pada akhirnya, kehidupan personal menyeleksi saya karena salah satu alasannya: saya tidak cantik natural dan saya bermake up.
Let me say it out loud.
Saya mengakui bahwa cantik saya tidak natural dan tidak berasal dari air wudhu.
Cantik saya berasal dari usaha dan ketika saya berhenti berusaha, saya akan terlihat tidak cantik.
Usahanya apa aja tuh?

